Opini Faisal Thaib, ST

0
272

Era Digital: Perkembangan Revolusi Industri dan Persoalan Kita (Bagian 1)

Oleh: Faisal Thaib, ST.
Dosen Unipas Morotai

ALFIN Tofler dalam salah satu esainya pernah mengintrodusir bahwa, abad sekarang ini
dikenal dengan abad digital. Konsekuensi dari abad digital ini, meniscayakan siklus peradaban informasi bergerak secara kinetik. Dalam istilah lain Tofler menyebutnya sebagai “global kinetik” dalam kultur global yang sedemikian mekanik ini. Kinerja manusia pun secara teknis dipaksakan harus sejalan dengan peradaban global.

Di tengah-tengah situasi kehidupan yang demikian, maka umat manusia, khususnya kita di negara Indonesia, sebagai bentuk respon terhadap perkembangan global yang ditandai dengan gelombang revolusi, yang kita hadapi saat ini Revolusi 4.0, dimana seluruh umat manusia, baik organisasi, entitas, suku, agama, bahkan negara dipaksakan harus mengikuti aturan main (rule of the game) atau mengikuti keharusan perkembangan setiap gelombang revolusi yang dimaksud. Bahkan, sangat jelas gelombang revolusi ini begitu cepat di satu sisi, dan tidak merata di sisi lainnya (tidak semua negara mampu menyesuaikan).

Lihat saja. Ketika negara-negara besar bagian Asia Timur dan Eropa yang sumber daya manusia (SDM) dan perkembangan teknologinya lebih pesat maju, mereka akan lebih dulu menikmati kelebihan-kelebihan yang dapat dihasilkan dari setiap tahap perkembangan revolusi.

Sejak fase perkembangan revolusi kita dapat menyaksikan, ketika Negara-negara yang lebih dulu maju itu telah berkembang pesat dengan revolusi tahap ke 3.0, kita di Indonesia masih tertatih-tatih menjejali revolusi 2.0. Ketika kita mulai mapan dengan revolusi 2.0 dan hendak beranjak menuju tahap revolusi 3.0, negara-negara maju telah beranjak menuju Revolusi 4.0. Dan lagi-lagi kita masih gamang terhadap apa dan bagaimana itu Revolusi 3.0. Saat ini negara-negara maju telah beranjak menuju revolusi society 5.0 atau revolusi tahap ke 5, kita masih bereuforia, atau bahkan kaget dengan satu tahap gelombang revolusi, yakni revolusi 4.0 saat ini kita hadapi.

Berdasarkan catatan fase perkembangan revolusi dapat kita tarik benang merah bahwa, kita sangat dan selalu tertinggal dari segala aspek (kuper/katrok). Bayangkan saja, pengelolaan industri kita masih menggunakan cara-cara bergaya jadul, menggunakan sistem pabrik, manufaktur, atau bahkan yang paling klasik, sistem domestik. Kita selalu mengalami degradasi hampir dalam setiap sistem dan sub sistem, infrastruktur dan supra struktur, yang mestinya menjadi kunci dalam menopang setiap perkembangan.

Padahal sumber daya manusia (SDM) kita begitu banyak. Sumber daya alam (SDA) kita melimpah. Potensi negara kita jauh lebih kaya dibandingkan dengan beberapa negara-negara maju saat ini. Tapi faktanya kita selalu mengalami ketertinggalan dan keterlambatan. Hal ini dapat kita lihat dari ciri khas setiap fase perkembangan revolusi yang kita jalani yang selalu tidak jelas.

Ketika negara-negara lain telah meninggalkan pola dan gaya sistem indsutri domestik yang merupakan ciri khas revolusi tahap 1, kita masih sibuk mendorong pemberdayaan industri domestik, atau industri rumahan (home industry), atau sistem pabrik, manufaktur, dll, sebagaimana yang penulis sebutkan sebelumnya. Padahal, jika kita merujuk pada fase perkembangan revolusi industri dari 1.0 sampai ke tahap 4.0 memiliki perbedaan yang sangat tampak. Dimana pada Revolusi Industri 1.0 yang ditandai dengan penemuan mesin uap, dimana pada era revolusi ini tenaga otot manusia sudah tergantikan dengan tenaga mesin sebagai alat produksi barang dalam rangka meningkatkan produktifitas industrial.

Revolusi Industri 2.0 juga dikenal sebagai Revolusi Teknologi, sebuah fase pesatnya industrialisasi di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, revolusi ini ditandai dengan penemuan tenaga listrik, kemunculan pembangkit tenaga listrik pada fase ini memicu kemunculan penemuan, teknologi, seperti mobil, motor, pesawat terbang, telepon yang telah mengubah wajah dunia secara signifikan.

Revolusi Indusri 3.0. adalah perkembangan globalization yang ditandai dengan kemunculan teknologi digital dan internet. Seorang sosiolog Inggris, David Harvey mendeskripsikan sebagai proses penempatan ruang dan waktu. Ruang dan waktu semakin terkompresi. Dan ini memuncak pada revolusi 3.0, yakni revolusi digital. Waktu dan ruang tidak lagi berjarak. Revolusi Industri 2.0 dengan hadirnya mobil membuat waktu dan jarak makin dekat. Revolusi 3.0 menyatukan keduanya. Sebab itu, era digital sekarang mengusung sisi kekinian (real time). Pada fase ini juga telah mengubah (transformasi) pola relasi dan komunikasi masyarakat kontemporer. Manajemen organisasi pun diharuskan berbasis digital agar tidak ketinggalan dan tertelan oleh jaman.

Sementara pada Revolusi industri 4.0, terjadi lompatan teknologi. Dimana Industri 4.0 adalah tren di dunia industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi siber. Dan pada industri ini teknologi manufaktur juga sudah masuk pada tren otomatisasi dan pertukaran data. Hal tersebut mencakup sistem siber-fisik, Internet Of Things (IoT), cloud computing, dan cognitive computing.

Pada industri ini telah mengubah banyak bidang kehidupan manusia, baik dalam dunia kerja, ekonomi, bahkan gaya hidup. Revolusi 4.0 merupakan platform teknologi cerdas yang dapat terhubung dengan berbagai bidang kehidupan manusia. (Baca: https://www.wartaekonomi.co.id/read226785/mengenal-revolusi-industri-dari-10-hingga-40).

Amatan penulis, berdasarkan catatan sejarah perkembangan revolusi bahwa, ternyata perkembangan revolusi itu secara eksistensial sedang mengembalikan eksistensi manusia. Sebelumnya yang diandalkan dari manusia hanyalah tenaga otot atau fisiknya, maka revolusi 1.0 dan 2.0 mengubahnya menjadi tenaga mesin. Sementara revolusi 3.0 yang paralel dengan revolusi 4.0, telah mengembalikannya lagi pada peranan manusia.

Namun yang membedakan adalah jika dahulu sebelum fase Revolusi 1.0 yang terjadi adalah mengandalkan (eksploitasi) tenaga otot manusia, maka dalam fase revolusi saat ini, yang dieksploitasi justru adalah fikiran manusia, gagasan dan kreatifitas manusia itu sendiri. Artinya bahwa, pada era saat ini, manusia sudah tidak akan di pandang lagi seperti mesin atau robot di pabrik-pabrik. Karena kita harus melahirkan gagasan, dan ide baru, dan kita pun dituntut harus menciptakan kreatifitas agar mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan yang begitu pesat. Sehingga kita tak boleh di kekang, tak boleh terlalu banyak di dikte dan lain sebagainya. kita di berikan kebebasan terbaik. Agar mampu melahirkan gagasan dan kreatifitas minority sebagai seorang manusia yang merdeka.

Dari uraian singkat penulis di atas, betapa hebatnya perkembangan revolusi. Buah revolusi ini telah mendudukkan manusia sebagaimana eksistensinya, yakni menjadi manusia berakal yang mampu menciptakan dan berdaya kreatif. Namun jangan buru-buru kita bereforia atau senang dengan hal itu. Karena jika keadaan ini terjadi terus menerus, maka lambat laun manusia yang katanya kreatif itu pun akan berubah menjadi mesin dan atau robot dalam revolusi tahap 4.0.

Mengapa demikian? Karena kita akan tak ubahnya seperti komputer, bahkan juga seperti mesin pencari seperti Google. Yang tugasnya hanya soal melahirkan gagasan dan inovasi agar dapat menyesuaikan perkembangan industri sesuai keinginan pasar.

Belum usai kita menyesuaikan dengan hiruk pikuk Revolusi 4.0, kita justru dikejutkan lagi dengan perkembangan Revolusi Society 5.0. Sebenarnya, konsep society 5.0 sudah bergulir lama sejak tahun 2016, dan tidak memiliki perbedaan yang jauh, dengan Revolusi Industri 4.0 yang memanfaatkan Internet Of Things (IOT), Artificial Intelligence (AI), dan Big Data, namun society 5.0 lebih memfokuskan kepada komponen manusianya. Konsep society 5.0 ini, menjadi inovasi baru dari society 1.0 sampai 4.0 dalam sejarah peradaban manusia.

Pertanyaannya adalah apakah Revolusi tahap 5.0 ini merupakan puncak penghancuran eksistensi kehidupan manusia? Manusia tidak akan bermakna apa-apa lagi? atau manusia hanya akan dipandang sebagai objek eksploitasi? Jawabannya adalah bisa iya dan bisa juga tidak, tergantung kesiapan dan kemampuan kita, agar tidak terseok-seok dalam menghadapainya.

Pada fase perkembangan Revolusi Industri 5.0 akan merasa tidak eksis kalau tidak memiliki media sosial. seperti Facebook, Twitter, Whatsapp, Email, dll. Manusia dalam revolusi tahap 5.0 akan dieksploitasi ide dan inovasinya untuk dijadikan sebagai pertimbangan penjualan produk di pasar (dalam pasar elektronik), melalui survei-survei elektronik yang saat ini telah marak terjadi. Semua pola dan tingkah laku kehidupan manusia di bentuk oleh media sosial agar mudah dikelompokkan sesuai dengan kecenderungan-kecenderungannya, sehingga mudah untuk diketahui tiap-tiap seleranya. Dan inilah yang sedang terjadi. Lalu, apa kelemahan dan kekurangan kita, sebagai Negara, sebagai suatu Bangsa yang kemerdekaannya untuk melindungi, mencerdaskan, mewujudkan ketertiban dunia dari penjajahan dalam bentuk apapun di muka bumi?

Kelemahan kita adalah kita begitu tunduk dan ikut arus terhadap ekspor revolusi. Kita sama sekali tidak bergerak sesuai dengan arah dan tujuan revolusi bangsa kita sendiri. Sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus mengikuti arus globalisasi ini tanpa pijakan, tanpa konsepsi, bahkan juga tanpa ideologi, sejatinya. (bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here