Jelang Pilkada, Pemkot “Ambil Hati” Pedagang

0
88
Lapak-lapak pedagang di lokasi parkiran depan Pasar Higienis

TERNATE, Koridor Malut – Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate nampaknya mulai berbaik hati kepada pedagang di pasar Higienis, utamanya yang berjualan di lokasi parkiran. Sebab jika selama ini pedagang bawang rica tomat (Barito), sering terlibat aksi kejar-kejaran dengan petugas. Namun hampir satu bulan ini, Pemkot ternyata sudah menjadikan lokasi parkiran sebagai tempat jualan bagi pedagang, tanpa diminta bayaran.

Sebagian pedagang menyambut baik kebijakan pemkot tersebut karena dianggap berpihak kepada pedagang. Namun sebagian lagi menganggap sikap itu patut dicurigai karena dilakukan menjelang pemilihan walikota Ternate. Apalagi selama pandemi Covid-19 berlangsung, Pemkot lah yang dianggap paling “skakar” membantu kebutuhan masyarakat.

“Torang di sini hampir tiga ratus orang yang jualan. Tidak ada bayaran tempat hanya retribusi harian. Alhamdulillah karena torang sudah bisa pasang payung besar, tempat juga agak luas dan dekat dengan pasar ikan,” kata salah satu pedagang.

“Selama Covid-19 ini, tidak ada bantuan dari pemkot untuk pedagang. Sampai-sampai muncul suara ibu-ibu nanti kitong balas di pilkada. Namun tidak berselang lama, muncul kebijakan menjadikan lahan parkir sebagai tempat jualan, langsung dilaksanakan setelah lebaran. Sehingga wajar saja kalau ada yang mengaitkannya dengan pilkada,” ucap pedagang yang lain.

Terkait hal ini, Ketua Forum Komunikasi Lintas Pedagang Pasar (FKLPP) Kota Ternate, Ajidan Gafur, S.IP menilai, kebijakan pemkot dalam penataan pasar terkesan tiba saat tiba akal, dan tidak menyentuh substansi persoalan pedagang pasar yang sebenarnya. Menurutnya, ini terjadi karena walikota tidak mendapat masukan lengkap mengenai kondisi pasar dan pedagang, baik dari instansi teknis maupun beberapa stakeholder.

Ajidan mengatakan, persoalan pedagang saat ini bukan soal tempat jualan, tapi sulitnya pedagang membayar bea tempat yang ditagih oleh Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Kota Ternate, akibat pendapatan yang menurun. Harusnya pemkot memberikan diskon kepada pedagang agar bea tempat tidak menjadi beban yang harus dipikul disaat pandemi seperti ini.

“Sebagian besar pedagang, baik barito, sembako, pakaian maupun asesories, keluhannya sama, yakni ada penurunan pendapatan selama pandemi covid-19 ini. Namun disisi lain, pedagang juga harus bekerja keras karena ada beban membayar bea tempat tiap bulan. Sejak awal FKLPP sudah menyuarakan agar pemerintah kota bisa meringankan beban pedagang, minimal menggratiskan bea tempat selama beberapa bulan, tapi itu tidak dilakukan,” kata Ajidan.

Menurutnya, kebijakan menjadikan lahan parkir sebagai tempat jualan merupakan langkah keliru dan hanya menambah kesemrautan pasar. Disebut salah karena pedagang yang kini berada di lahan parkir, umumnya adalah pedagang yang memiliki tempat jualan di pasar los maupun pasar barito. Namun karena kondisi sepi pembeli, sehingga pedagang-pedagang itu lari ke area parkir.

“Akhirnya, tempat mereka di pasar los dan pasar barito tinggal jadi gudang, dan lahan parkir mereka jadikan tempat jualan,” ujarnya. (aha)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here